Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2011

ruang terbuang petualang

perempuan malang, hilang entah
apa tak ada kata patah, remuk
hati seorang pemimpi, buruk
sunyi sepi hati menanti
jerit lembut mengisi
ruang terbuang petualang

selamat malam

baterai lemah
mataku nanar
kesadaranku pudar
dan kau masih saja diam
ah,sudahlah,aku lelah

berhenti mati

menyerah kalah
dan relakan mimpi kita musnah
apa kau sanggup
mencumbu bulan tanpa kudekap
dijamah mentari
sementara aku mati

sms sampah

aku hanya bisa membuang sms sampah
entah kau baca, kau selami, kau tangisi
aku tak peduli
karna cinta memang tak pernah menuntut karma
ia hanya tak bisa diam
sebelum temukan bagiannya hilang

memori sarang

jam 12 tepat,
saat untuk berhitung
kopi, tempe, ote ote tiga
tambah es jarang dan entah berapa tempe be es
2300 harga 1 jam setengah melepas penat,
menghela nafas,
merontokkan semua beban
hampir lupa
rokok sukun separo, seharga sama
4600 biaya ekstra konsultasi masalah cinta, keluarga dan segalanya
siap tempur melawan rasa sepi dalam bising mesin tronton
menonton paha pada terbuka
lengket kena muncratan sperma entah siapa
yang pasti bukan saya

apa yang seperti itu masih ada?
saya mau pesan satu

hanya hati

kudengar suara pelan dari dasar tenggorokan mecoba meraih laring mengayun pita suara yang tak berdaya menggetar menarikkan lidah bersetubuh bibir membentuk aliran getar nafas melena membuka satir jiwa untuk dipertontonkan seluruh pasang mata telinga teramat berat hingga mengatupkan bibir lekat biarkan hanya hati mendengarnya

nol kata

Jaman kian menepi meninggalkan sunyi disini bersama kenangan menyilam masa yang terlewati tak lama sebelum sadar mata ini terpejam mengubur mimpi hari kemarin senja sebentar gelap berselimut tubuh tak bernyawa merasuk susuk - susuk wanita penghibur jiwa - jiwa lelah terbuai amarah mengumbar sumpah serapah kosong tak berkata

Kamis, 07 April 2011

gerutan sketsa tragedi

kerut lembar wajah bumi menjadi saksi
kekalahanku menjaga kendali emosi, amarah
membuncah, darah segar mengalir anyir
nyama terhempas melepas raga
sekali lagi
hegemoni keangkuhan manusia
membunuh senyuman

cerita kehidupan meratapi nasibnya sendiri
yang tak pasti
saat isak tangis lebih sering mewarnai pementasan
tak peduli isi pikiran perasaan para pemeran,
atawa lemparan kekesalan

ratapan airmata menggenang
pada kubangan lumpur dalam
bau tanah basah bercampur anyir darah

tak ada gundukan
hanya mayat - mayat berserakan

iba, empati musnah
tersisa sedikit rona kengerian tampak pada wajah
wajah mereka yang melihat maut menjemput
berharap sang sutradara menghentikan sejenak
sketsa tragedi yang terjadi
kini
di sini
di tanah suci


by_madAs

Senin, 04 April 2011

Tasbih dan dzikirku

Kau kecam tasbih dan dzikirku
Kau bilang itu syirik
Tuhan yang satu
kenapa kau hitung tiap waktu

Kau juga bilang
sudah saatnya atribut ibadah berganti wajah
siwak diubah pasta
gamis berganti jas
dan tasbih dekilku,kau minta buang
tukar dengan tasbih digital

Kau lupa kawan
Kau telah lupa makna pada tiap kekunoan

Dzikirku tak pernah menghitung jumlah Tuhan yang aku sembah
Dzikirku hanya mencoba menghitung kebesaran Tuhan, nikmat dan anugerah
menghitung jumlah tuhan yang telah dipertuhankan ribuan manusia

Dan tasbihku
melingkar tak berujung
setakterhitung segala yang Tuhan berikan

Rabu, 08 Desember 2010

Kehangatan Secangkir Kopi

         Berawal dari ketidak sengajaan, aku mulai berkenalan dengan aroma kopi kental, sebagai pelengkap kepulan asap rokok, saat menata langkah baru, meninggalkan kehidupan seorang remaja yang telah kehilangan banyak waktu, hanya demi sebuah pencarian jati diri tak pasti. Memulai petualangan di daerah pesisir pantai utara,  ujung timur Jawa Tengah. Belajar mengenal dan masuk ke dalam kebudayaan, kebiasaan, serta kearifan lokal baru yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Senin, 06 Desember 2010

Selamat tahun baru, belum tibakah

(Renungan awal tahun dari Gus Mus)


Selamat tahun baru kawan kawan..
Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk
Memandang diri sendiri
Bercermin firman tuhan, sebelum kita di hisabNya
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah?, mukminin?, muttakin?
Khaliffah Allah? Umat Muhammad kah kita?
Khairuummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makluk lain
Atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak-budak  perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang gaib
Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok permpuan
Betapapun tersiksa
Kita khusuk di depan massa
Dan tiba-tiba buas dan binal
Justru disaat sendiri bersamaNya
Sahadat kita rasanya seperti perut beduk
Atau pernyataan setia pegawai rendahan
Kosong tak berdaya
Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
lebih cepat dari menghirup kopi panas
Dan lebih ramai dari pada lamunan seribu anak muda
Doa kita setelahnya justru lebih serius
Kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga

Kamis, 02 Desember 2010

Adilla Laa Miria

Kuterpaku, terpesona saat kau mulai hiasi tiap awal hari yang akan kujalani. Berdiri 15 menit, bersandar pada sebuah gapura, menunggu bus yang kau tunggu datang menjemputmu. Kau paksaku tuk selalu bangun pagi, meski itu kebiasaan yang tak pernah kujalani. Bahkan membuat kurela melewati malam tanpa mata terpejam. Karena kutahu, kau tak pernah biarkan indahmu kunikmati setelah jarum panjang jam dinding kamarku melewati angka enam. Kau akan hukum aku dengan penyesalan jalani hari ini tanpa bisa melihat wajahmu. Wajah yang tak pernah kulupa tapi selalu ingin kurekam tiap saat, tiap detik, atau setidaknya tiap hari.

Sabtu, 20 November 2010

Pantaskah kukatakan Aku cinta Kamu

aku malu dengan diriku
hanya sanggup menatapmu dari balik satir
tak mampu dekati
nikmati indahmu yang bagiku hanyalah mimpi
angan dan harapan yang tak pernah berhenti kunanti
lenyap hilang
berganti menjadi kenyataan yang dapat kurasakan

                 kau adalah kesempurnaan
                 jauh di atas arti kesempurnaan yang dulu aku banggakan
                 kesombongan manusia hina
                 yang belum mengenal siapa dirinya
                 apalagi pahamimu


aku malu
sungguh malu
mengaku mencintaimu
tapi tak pernah bahagiakanmu
mengaku memilikimu
tapi tak pernah bersandar padamu
aku benar-benar malu
mengaku kekasihmu
tapi sedikitpun tak mampu kubuktikan cintaku


Bantul, 19 November 2010

by_madAs

Jumat, 29 Oktober 2010

Darah Hitamku

      Kuakui kulelah terus melangkah, menatap sebuah arah di depan yang tak pernah kumengerti kan berakhir kapan. Telah banyak jalan kulalui, tapi tak pernah sampai kutemukan persinggahan nyaman, sejenak beristirahat sebelum memulai kembali perjalanan panjang ini. Hanya ada jiwa - jiwa kosong, tak punya mimpi. Aku kecewa, muak, tapi mulutku tak pernah mampu berteriak. Hanya hatiku menjerit, memekik tanpa suara. Aku tahu kaupun kecewa.

Minggu, 24 Oktober 2010

Intelektual Jalanan




       Ini adalah kisah tentang memperjuangkan sebuah pilihan, pemiikiran, jalan hidup, agar sejalan dengan tuntunan kata hati yang kami dengar. Tentang bagaimana kami berupaya sekuat tenaga melepaskan setiap kekangan aturan baku, kaku, yang membekukan arti kebebasan yang belum kami temukan. Kami bertiga bukanlah sahabat dengan banyak kesamaan. Ada banyak perbedaan, terlalu banyak malahan. Tapi kami menghargai dan mensyukuri semua ini, sebab dari situ kami tahu, itulah kekayaan warna yang kami punya. Satu - satunya kesamaan yang kami miliki, kami sangat membenci jika langkah kami terhalang oleh aturan yang sudah seharusnya cuma dipajang atau bahkan sepantasnya harus dibuang, tapi masih saja dibanggakan, dijadikan alasan untuk menghancurkan mimpi dan obsesi orang - orang seperti kami. Manusia yang lebih memilih jalan hidup beda dengan mereka. Oh hampir lupa, ternyata masih ada satu lagi kesamaan kami. Betah berjam - jam menghabiskan malam di warung kopi, bercerita tentang semua hal sampai pagi. Dari situlah persahabatan kami dimulai.

Selasa, 19 Oktober 2010

DUNIA IMAJI

Teringat dengan masa kecil dulu. Saat aku punya begitu banyak impian gila. Terbang seperti Superman, punya kekuatan super, menjadi pahlawan yang akan selalu melindungi anak cewek yang aku taksir dari keusilan anak - anak nakal. Atau bahkan pernah juga punya skenario 'mustahil' kalau sebenarnya aku ini adalah Ranger Merah yang sedang menjalankan misi penyamaran jadi manusia biasa, dan masih menunggu perintah Gordon selanjutnya. Itulah dunia anak yang penuh khayalan 'aneh' dan gila, meskipun diakui atau tidak, dulu kita sangat menikmatinya. Rasanya setelah dewasa, selalu saja ada keinginan untuk kembali ke sana. Mengulang masa disaat kita bisa menikmati hidup ini tanpa beban. Begitu jauh berbeda dengan kehidupan yang kita miliki sekarang. Ketika masalah dan beban tak mau berhenti memainkan perasaan dan pikiran. Tak pernah menikmati, apalagi mensyukuri. Hanya ada keinginan lari. Kitapun bertanya. Apa yang salah, diri kita ataukah hidup ini yang telah berubah.

Senin, 18 Oktober 2010

Janji


Malam ini, aku masih hanya bisa menunggu
Menunggu sebuah janji yang pernah kudengar dulu
Saat kau tinggalkan tubuhku yang masih telanjang
di atas ranjang yang kau bilang
hanya kau sediakan khusus untukku
Tempat kau berikan semua kasih dan segalanya
Tempat kita habiskan waktu kita berdua

Tapi semua itu sebelum kau tega tinggalkan tubuhku yang kedinginan
Belum mampu sepenuhnya tersadar

Namun masih teringat jelas malam terakhir yang kau berikan
Tiap detik, tiap menit, kurasakan sentuhan lembut kulitmu
Kau ciumi seluruh tubuhku
Tak pernah kau lepaskan pelukan hangat terakhir yang bisa kurasakan.

Kenangan yang membuatku betah berjam - jam
Hanya duduk menikmati kopi, di sebuah warung remang - remang
Terdiam di kelilingi rayuan kupu - kupu malam
Yang tertawa manja mendengar ajakan kencan lelaki hidung belang
Sambil terus memandangi jarum jam yang tak lelah berputar
kuputar semua kenangan - kenangan yang tak bisa kuhilangkan
Awal pertemuan kita, perpisahan, dan kata - kata terahir yang kau ucapkan
Samar - samar terdengar kau katakan:

Maafkan ibu anakku
Ibu pergi dulu
Suatu saat nanti, ibu pasti kembali
Ya, satu saat nanti








madAs@sokaraja, Oktober 18, 2010

Sabtu, 16 Oktober 2010

JENDELA

Pernah kudengar, seorang tua berkata " Banyak jalan untuk melihat dunia ". Saat kucoba pahami setiap makna huruf yang menyusun kalimat penuh misteri dan hikmah terpendam itu, kudatangi setiap hal yang dari situ dunia dapat kulihat dengan cara berbeda. Buku, televisi, surat kabar, hingga isi kepala orang - orang yang telah menemukan banyak cerita di jagad panggung operet kehidupan dunia. Hanya satu tempat aku benar - benar bisa menikmati dunia realita secara lebih dekat, tanpa banyak kebohongan. Dunia dengan wajah aslinya. Namun tetap dengan cara tersembunyi, tanpa harus diketahui aktor - aktor yang biasa berpura - pura menutupi kebusukannya, untuk sekedar mencari simpati, bahkan empati dari penonton dan aktor lainnya. Tempat itu hanya dapat ditemukan dengan sempurna dari balik sebuah jendela. Jendela yang telah sering terabaikan. Hanya di buka pada pagi hari, dan ketika malam menjelang ditutupi dengan tirai yang menutupi aib aktor - aktor yang ingin beristirahat dari rutinitas peran yang seharian mereka jalani.

KAU INI BAGAIMANA ATAWA AKU HARUS BAGAIMANA

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?

kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?

kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan
aku harus bagaimana?

aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?

kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
aku harus bagaimana?

Puisi Islam

Islam agamaku, nomor satu di dunia
Islam benderaku, berkibar dimana-mana
Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya

Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia
memandangku
Tempat aku menusuk kanan-kiri